Bukan Akhir, Tapi Awal Perjuangan Baru: DPN-JWI Teguhkan Persatuan dan Keberlanjutan Organisasi
0 menit baca

JAKARTA — Cakrawala Asia.Id
Kepergian seorang pemimpin bukan berarti berakhirnya sebuah perjuangan. Justru di tengah suasana duka, sebuah organisasi diuji: apakah mampu tetap berdiri, menjaga persatuan, dan meneruskan cita-cita yang telah dibangun bersama.
Semangat itulah yang mengemuka dalam rapat konsolidasi dan restrukturisasi Dewan Pimpinan Nasional Jajaran Wartawan Indonesia (DPN-JWI), Sabtu (8/8/2026), yang berlangsung di Mie Aceh Sumadra, Manggarai, Jakarta.
Rapat tersebut dihadiri unsur Dewan Pengarah yang terdiri dari Dewan Pembina dan Dewan Penasehat, jajaran pengurus harian DPN-JWI, Ketua Harian, Sekretaris Jenderal, Bendahara, Kepala Sekretariat, serta 15 Kepala Departemen Teknis.
Pertemuan menjadi momentum penting bagi DPN-JWI untuk memperkuat soliditas sekaligus memastikan roda organisasi tetap berjalan setelah wafatnya Ketua Umum JWI.
Dalam suasana penuh penghormatan, seluruh jajaran pengurus mengenang almarhum Ketua Umum dan memanjatkan doa. Namun, duka tidak membuat langkah organisasi terhenti.
Sebaliknya, para pengurus menegaskan tekad untuk melanjutkan perjuangan, menjaga amanah, dan meneruskan cita-cita organisasi yang telah dirintis selama ini.
Organisasi Tidak Boleh Vakum,
Sekretaris Jenderal DPN-JWI, Lindayani Ritonga, SE., MM, menegaskan bahwa wafatnya seorang pemimpin tidak boleh menjadi alasan bagi organisasi untuk berhenti bergerak.
“Organisasi tidak boleh vakum. Roda organisasi harus tetap berjalan, program harus tetap dilaksanakan, dan seluruh jajaran harus tetap bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya,” tegas Lindayani.
Pernyataan tersebut menjadi pesan kuat bahwa keberlangsungan organisasi bukan semata-mata tanggung jawab satu orang, melainkan amanah bersama seluruh jajaran.
Menurut Lindayani, konsolidasi diperlukan agar setiap unsur organisasi memahami tugas dan kewenangannya, sekaligus memastikan program kerja dapat terus berjalan secara terarah.
Dari Duka Menuju Kebangkitan
Dalam rapat tersebut dibahas sejumlah agenda strategis, mulai dari keberlanjutan kepemimpinan, restrukturisasi kepengurusan, pembagian tugas dan kewenangan, program kerja jangka pendek, pendataan serta administrasi organisasi, hingga mekanisme evaluasi dan pengembangan organisasi.
Ketua Harian JWI juga memaparkan langkah-langkah konsolidasi yang perlu segera dilakukan untuk menjaga kesinambungan aktivitas organisasi.
Bagi DPN-JWI, kepemimpinan bukan sekadar persoalan siapa yang duduk di sebuah kursi jabatan. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan tanggung jawab untuk memastikan seluruh roda organisasi tetap bergerak dan seluruh anggota tetap mendapatkan arah.
Dewan Penasehat:
Persatuan Adalah Kekuatan
Ketua Dewan Penasehat JWI, Abdurrahman, dalam arahannya memberikan apresiasi terhadap seluruh jajaran pengurus yang tetap menjaga persatuan di tengah masa transisi.
Ia mengingatkan bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada struktur, tetapi juga pada kemampuan seluruh jajaran untuk menjaga kebersamaan.
JWI, menurutnya, merupakan organisasi profesi yang independen dan memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.
Abdurrahman juga menekankan pentingnya memastikan keberlanjutan kepemimpinan berdasarkan dokumen legal organisasi, termasuk SK Kementerian Hukum dan HAM serta akta pendirian JWI, hingga berakhirnya periode kepengurusan yang telah ditetapkan.
Maxmillian Apituley Dipercaya Menjalankan Kepemimpinan JWI
Salah satu keputusan penting dalam rapat tersebut adalah mengenai keberlanjutan kepemimpinan DPN-JWI setelah wafatnya Ketua Umum JWI.
Setelah melalui pembahasan dan kesepakatan seluruh jajaran pengurus, forum menyepakati Ketua Harian DPN-JWI, Ir. Maxmillian Apituley, MT, untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Umum JWI.
Keputusan tersebut mempertimbangkan pengalaman Maxmillian Apituley dalam menjalankan roda organisasi sejak JWI berdiri hingga saat ini.
Namanya juga tercantum sebagai salah satu ketua dalam dokumen kepengurusan yang terdapat dalam SK AHU Kementerian Hukum RI Nomor AHU-0008102.AH.01.07.TAHUN 2024.
Keputusan itu sekaligus menjadi simbol bahwa estafet kepemimpinan organisasi harus terus berjalan.
Amanah Lebih Besar dari Jabatan
Lindayani Ritonga kembali menegaskan bahwa persoalan utama dalam situasi tersebut bukanlah perebutan posisi, melainkan bagaimana amanah organisasi dapat terus dijalankan.
“Yang paling penting bukan persoalan jabatan semata, tetapi bagaimana amanah organisasi tetap berjalan. Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kesinambungan, mengayomi seluruh jajaran dan memastikan DPN-JWI tetap solid,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang bergantung pada satu figur, melainkan organisasi yang mampu melanjutkan perjuangan melalui sistem, kebersamaan, dan kaderisasi.
Melanjutkan Perjuangan, Menjaga Marwah Wartawan..
Rapat konsolidasi DPN-JWI akhirnya bukan sekadar forum restrukturisasi. Lebih jauh, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan dan tanggung jawab profesi.
Dari sebuah kehilangan, lahir tekad untuk bangkit.
Dari sebuah masa transisi, lahir semangat untuk memperkuat organisasi.
Dan dari sebuah amanah, lahir komitmen untuk terus berjalan.
DPN-JWI menegaskan komitmennya memperkuat konsolidasi di tingkat pusat dan daerah, menjalankan program kerja secara berkesinambungan, serta menjaga marwah organisasi sebagai wadah yang menghimpun insan pers.
Karena pemimpin boleh berganti, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti.
JWI harus tetap berjalan, bersatu, dan terus memberikan kontribusi bagi dunia jurnalistik serta pembangunan bangsa.
Butet