Menapaki Tangga Harmoni di Bukit Gumang: Ketika Seragam Kepolisian dan Balutan Adat Menyatu dalam Doa
0 menit baca

KARANGASEM, BALI — Langkah kaki itu terayun secara perlahan namun mantap, meniti anak tangga demi anak tangga yang membelah keheningan Bukit Gumang. Di bawah naungan rindangnya pepohonan Karangasem, tampak Wakapolda Bali, Brigjen Pol. I Made Astawa, S.I.K., M.S.I., berjalan berdampingan dengan warga Desa Adat Bugbug. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Yang ada hanyalah derap langkah yang senada menuju puncak spiritualitas di Pura Gumang.
Perjalanan menanjak tersebut jauh melampaui ritus fisik semata. Setiap anak tangga yang dilalui seolah menjelma menjadi simbol perjalanan bersama: tentang kerendahan hati, perjuangan, dan komitmen mendalam untuk merawat kedamaian di atas tanah Parahyangan.
Sujud Khidmat di Puncak Suci
Setibanya di pelataran Pura Gumang, aroma dupa yang membumbung tipis disambut angin perbukitan menyempurnakan suasana khusyuk. Dalam balutan pakaian adat yang bersahaja, jajaran kepolisian dan masyarakat duduk bersila bersama, menangkupkan kedua telapak tangan di atas dahi.
Doa-doa dilantunkan secara khidmat—sebuah wujud bhakti dan permohonan tulus kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Dari puncak bukit tersebut, terpanjat doa agar keselamatan, ketenteraman (kerahayuan), serta kesejahteraan senantiasa menaungi masyarakat Desa Adat Bugbug dan seluruh pelosok Pulau Dewata.
Menjaga Kedamaian Lewat Kearifan Lokal
Kehadiran Brigjen Pol. I Made Astawa di tengah-tengah masyarakat adat menegaskan satu hal penting: keamanan dan ketertiban masyarakat tidak pernah bisa dibangun dari balik meja komando semata. Ia tumbuh dari persentuhan rasa, kepedulian yang tulus, serta rasa hormat yang mendalam terhadap nilai-nilai kearifan lokal.
Di Bali, di mana adat dan kebudayaan menjadi napas kehidupan, pendekatan humanis adalah kunci. Polri hadir tidak sekadar sebagai penegak hukum, tetapi sebagai pelindung yang merangkul dan berjalan seiring dengan tradisi leluhur.
"Dalam menjaga keamanan dan kerukunan, tak ada satu pihak pun yang sanggup berjalan sendirian. Seperti menapaki tangga Pura Gumang, kita butuh saling dukung, saling jaga, dan melangkah bersama hingga sampai di puncak tujuan," menjadi cerminan dari semangat kebersamaan tersebut.

Fondasi Kedamaian Sejati
Kedamaian sejati tidak tercipta secara instan, melainkan dipupuk dari kesadaran kolektif untuk saling menghargai, merawat tali persaudaraan (seken-seken menyama braya), dan meletakkan kepentingan bersama di atas segala perbedaan.
Momentum di Pura Gumang ini menjadi cermin jernih bahwa institusi kepolisian dan masyarakat adat adalah dua elemen yang tak terpisahkan. Keduanya saling menguatkan dan saling menopang.
Ketika doa telah dipanjatkan dan langkah kaki kembali menuruni bukit, jejak kebersamaan itu tetap tertinggal erat di hati masyarakat Bugbug. Berjalan bersama, berdoa bersama, dan menjaga kedamaian bersama—sebuah narasi indah tentang bagaimana harmoni di Bali terus dirawat dengan penuh ketulusan.
Reborn