KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok: 172 Orang Dievakuasi, Satu Penumpang Tewas
0 menit baca

LOMBOK/BALI – Cakrawala Asia.Id. Kepanikan pecah di perairan Selat Lombok, Rabu (12/8/2026) dini hari, setelah KMP Putri Yasmin terbakar ketika berlayar dari Pelabuhan Padang Bai, Bali, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok.
Api dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 04.15–04.39 WITA. Dalam hitungan waktu, operasi penyelamatan besar-besaran digelar. Tim SAR gabungan mengerahkan kapal penyelamat, kapal TNI AL, kapal patroli, kapal feri di sekitar lokasi hingga dukungan helikopter untuk memantau kondisi dari udara.
Evakuasi Berlangsung di Tengah Laut Bergelombang
Kantor SAR Mataram mengerahkan KN 220 Mataram, RIB dan RBB, sedangkan Kantor SAR Denpasar turut mengerahkan KN SAR Arjuna. Sejumlah kapal lain juga membantu proses penyelamatan, termasuk KMP PortLink II, unsur TNI AL, Polairud, Syahbandar Lembar, kapal yacht dan unsur masyarakat.
Hingga perkembangan terakhir yang dilaporkan pada Rabu, 172 orang berhasil dievakuasi. Satu penumpang perempuan berusia 19 tahun dilaporkan meninggal dunia. Sedikitnya dua korban juga dilaporkan mendapat perawatan di rumah sakit.
Data Manifest Jadi Pertanyaan Serius
Di balik keberhasilan operasi evakuasi, muncul persoalan yang tidak boleh berhenti hanya pada proses penyelamatan.
Data awal manifest kapal mencatat 131 orang, terdiri dari 114 penumpang dan 17 awak kapal. Namun, jumlah orang yang kemudian berhasil dievakuasi mencapai 172 orang.
Selisih angka tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai akurasi manifest dan sistem pencatatan penumpang kapal.
Apakah seluruh orang yang berada di atas kapal tercatat secara resmi? Jika benar terdapat perbedaan antara data manifest dan jumlah orang yang dievakuasi, siapa yang bertanggung jawab terhadap sistem pengawasan tersebut?
Pertanyaan ini penting karena manifest bukan sekadar dokumen administratif.
Dalam kondisi darurat, manifest merupakan salah satu instrumen utama untuk memastikan berapa orang yang harus diselamatkan dan siapa yang masih belum ditemukan.
Reuters juga melaporkan bahwa penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui dan masih menjadi bagian dari penyelidikan.
Pemerintah Tak Boleh Sekadar Menunggu Api Padam
Peristiwa KMP Putri Yasmin menjadi alarm keras bagi keselamatan transportasi laut di jalur Bali–Lombok.
Terlebih, insiden ini terjadi tidak lama setelah kebakaran kapal KM Mutiara Sentosa II yang juga menimbulkan korban jiwa. Rangkaian kecelakaan tersebut semestinya mendorong evaluasi menyeluruh, bukan sekadar penanganan setiap kejadian setelah musibah terjadi.
Publik berhak mendapatkan jawaban mengenai tiga hal utama: apa penyebab kebakaran, mengapa terdapat perbedaan jumlah orang antara manifest dan hasil evakuasi, serta bagaimana pengawasan keselamatan kapal dilakukan sebelum kapal diberangkatkan.
Peristiwa di Selat Lombok ini harus menjadi momentum untuk membuka seluruh fakta secara transparan. Jika terdapat kelalaian, harus ada pertanggungjawaban.
Jika sistem sudah berjalan sesuai aturan, pemerintah dan operator kapal juga wajib menjelaskan kepada publik mengapa angka manifest dapat berbeda begitu jauh dari jumlah orang yang akhirnya dievakuasi.
Afkan.