Mendiktisaintek Tegaskan Pentingnya Regenerasi Peneliti dan Akses Terbuka Infrastruktur Riset
0 menit baca

Foto istimewa
Jakarta, 30 September 2026 – Penguatan kapasitas riset perguruan tinggi membutuhkan dukungan terhadap regenerasi peneliti sekaligus kolaborasi dalam pemanfaatan infrastruktur penelitian. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai mahasiswa pascasarjana, khususnya di Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan kegiatan penelitian.
Hal tersebut disampaikan Brian dalam Forum Dialog Strategis BRIN dan Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH) di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
“Kita perlu menambah jumlah mahasiswa pascasarjana, terutama di PTNBH. Mahasiswa pascasarjana merupakan penggerak utama penelitian. Kita tidak mungkin menghasilkan penelitian berkualitas tinggi dan berkelas dunia jika memiliki laboratorium, tetapi tidak memiliki mahasiswa S3,” ujar Brian.
Menurutnya, keberadaan mahasiswa pascasarjana perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi penguatan kapasitas penelitian perguruan tinggi. Laboratorium dan berbagai fasilitas penelitian tidak akan dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa dukungan peneliti dan mahasiswa yang secara aktif menjalankan agenda riset.
Regenerasi peneliti juga dinilai penting untuk menjaga kesinambungan agenda penelitian dalam jangka panjang. Mahasiswa pascasarjana dapat terintegrasi dengan agenda riset yang dikembangkan para pembimbing dan peneliti senior dalam lingkungan laboratorium yang produktif.
Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi terjadinya transfer pengetahuan dan kepakaran antara peneliti senior, peneliti muda, dan generasi peneliti berikutnya.
Kolaborasi Perluas Akses Infrastruktur Riset
Selain penguatan sumber daya manusia, Brian menyoroti pentingnya keterbukaan akses terhadap infrastruktur penelitian. Keterbatasan peralatan riset di sejumlah perguruan tinggi, menurutnya, dapat menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarkampus, antarpeneliti, maupun dengan lembaga riset.
Salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan melalui skema kolaborasi adalah infrastruktur penelitian yang tersedia di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Brian menilai kebutuhan penelitian tidak selalu dapat dipenuhi oleh satu institusi. Melalui kolaborasi, perguruan tinggi dan lembaga riset dapat saling melengkapi dari sisi kepakaran, fasilitas, maupun sumber daya penelitian.
“Riset harus dikerjakan bersama-sama, tidak bisa sendiri-sendiri. Saya sering datang ke kampus-kampus dan menemukan bahwa salah satu keluhan yang banyak disampaikan adalah keterbatasan dana untuk peralatan riset. Kuncinya adalah membangun kolaborasi antarkampus dan antarpeneliti,” kata Brian.
Menurutnya, kolaborasi dapat memperluas pemanfaatan laboratorium dan peralatan penelitian sekaligus mempertemukan kepakaran dari berbagai perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor industri.
Keterhubungan tersebut juga dapat mendorong pengembangan penelitian secara lebih terintegrasi, mulai dari identifikasi dan perumusan persoalan, pelaksanaan riset, hingga pemanfaatan hasil penelitian dan inovasi.
Penguatan ekosistem riset nasional, dengan demikian, tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas penelitian. Aspek regenerasi talenta, kolaborasi antarlembaga, keterbukaan akses terhadap infrastruktur, penguatan kepakaran, serta pemanfaatan hasil penelitian menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas riset perguruan tinggi yang berkelanjutan.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mempercepat lahirnya penelitian dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Reborn