BREAK NEWS

MENIKAH ITU FANA: KETIKA CINTA BUKAN TENTANG MEMILIKI, MELAINKAN AMANAH. Oleh : Siti Rahma  Edukasi Keluarga & Refleksi Sosial


Poto Istimewa 

Pasangan Bukan Tujuan Akhir, Melainkan Perjalanan Mengenal Diri dan Menjalankan Amanah

JAKARTA — Cakrawala Asia.Id

Pernikahan sering dipahami sebagai puncak perjalanan cinta. Namun, dalam realitas kehidupan rumah tangga, pernikahan justru menjadi awal dari proses panjang untuk belajar tentang tanggung jawab, kesetiaan, pengendalian ego, komunikasi, dan penghormatan terhadap pasangan.

Dalam perspektif keagamaan, pasangan bukanlah objek kepemilikan. Ia adalah manusia yang memiliki kehendak, martabat, hak dan kewajiban. Karena itu, relasi suami-istri tidak semestinya dibangun atas logika "kau milikku sehingga harus tunduk kepadaku", melainkan atas kesadaran bahwa hubungan tersebut merupakan amanah yang harus dijaga.

Ungkapan “menikah itu fana” dalam konteks reflektif bukan berarti pernikahan tidak bernilai. Justru sebaliknya, ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia, termasuk hubungan antarmanusia, memiliki keterbatasan.

Yang perlu diluruhkan bukan cinta, tetapi ego untuk menguasai.

DATA MEMBACA REALITAS

Idealitas pernikahan berhadapan dengan realitas sosial yang tidak sederhana.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data perceraian 2025 mencapai ratusan ribu perkara secara nasional, dengan faktor penyebab yang antara lain meliputi perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, meninggalkan salah satu pihak, kekerasan dalam rumah tangga, serta persoalan ekonomi. BPS menyediakan data tersebut berdasarkan provinsi dan faktor penyebab perceraian.

Data tersebut tidak dapat dibaca semata-mata sebagai kegagalan cinta. Perceraian merupakan fenomena sosial yang mempunyai banyak variabel: komunikasi, ekonomi, kekerasan, ketidaksetaraan relasi, ketidakmampuan menyelesaikan konflik, hingga persoalan individual.

Namun satu fakta penting terlihat: konflik rumah tangga yang berlangsung terus-menerus merupakan salah satu faktor yang sangat dominan dalam perkara perceraian.

Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung juga mencatat bahwa perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi faktor dominan dalam sejumlah wilayah peradilan agama.

Artinya, romantisme saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga.

KETIKA “MEMILIKI” BERUBAH MENJADI “MENGUASAI”

Ada perbedaan mendasar antara memiliki ikatan perkawinan dan merasa memiliki manusia sepenuhnya.

Perkawinan memang menciptakan konsekuensi hukum berupa hak dan kewajiban antara suami dan istri. Tetapi konsekuensi hukum tersebut bukan legitimasi untuk melakukan kontrol tanpa batas.

Kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, tidak hanya berbentuk kekerasan fisik. Mahkamah Agung menjelaskan bahwa hukum juga mengenal kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga.

Karena itu, kalimat “dia pasangan saya” tidak boleh berubah menjadi pembenaran untuk merendahkan, mengintimidasi, mengisolasi, mengontrol atau menyakiti pasangan.

Cinta yang sehat membutuhkan batas.

Kesetiaan membutuhkan kebebasan untuk memilih tetap setia.

Dan tanggung jawab membutuhkan kesadaran, bukan ketakutan.

PERNIKAHAN SEBAGAI CERMIN DIRI

Pernikahan sering memperlihatkan karakter manusia yang sebelumnya tidak terlihat.

Di dalam rumah tangga, seseorang dapat berhadapan dengan egonya sendiri:

ingin selalu benar,

ingin selalu dimengerti,

ingin menang dalam setiap perdebatan,

ingin pasangan mengikuti seluruh keinginannya,

atau merasa bahwa pengorbanannya harus selalu dibalas.

Di sinilah pernikahan dapat menjadi ruang pembelajaran.

Bukan hanya “apakah pasangan membuat saya bahagia?”, tetapi juga:

“Apakah kehadiran saya membuat pasangan merasa aman?”

“Apakah saya mampu mendengarkan tanpa langsung menghakimi?”

“Apakah saya menjaga pasangan tanpa menguasainya?”

“Apakah saya mencintai manusia yang nyata, atau hanya mencintai gambaran pasangan ideal dalam kepala saya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar mengejar gambaran pernikahan sempurna.

HUKUM PUN MENGENALI PENTINGNYA KEUTUHAN RELASI

Dalam hukum perkawinan Indonesia, perceraian bukan sekadar persoalan “sudah tidak cinta”. Ada alasan-alasan hukum tertentu yang menjadi dasar perceraian.

Dalam praktik peradilan agama, perselisihan dan pertengkaran terus-menerus yang menyebabkan tidak adanya harapan untuk hidup rukun kembali merupakan salah satu dasar yang diakui dalam hukum perkawinan.

Bahkan dalam praktik peradilan, persoalan relasi dapat mencakup dimensi mental dan ekonomi. Salah satu putusan Pengadilan Agama yang dipublikasikan Mahkamah Agung menunjukkan bagaimana ketidakpedulian, tidak terpenuhinya kewajiban, dan konflik berkepanjangan dapat dipertimbangkan dalam menilai disharmoni rumah tangga.

Dengan demikian, menjaga pernikahan bukan hanya persoalan mempertahankan status administratif.

Yang dijaga adalah kualitas hubungan manusia di dalamnya.

KETETAPAN TUHAN DAN BATAS KEMAMPUAN MANUSIA

Dalam perspektif iman, manusia memiliki keterbatasan.

Kita dapat merencanakan pernikahan, memilih pasangan, membangun rumah, mempunyai anak dan menyusun masa depan. Tetapi manusia tidak sepenuhnya mengendalikan bagaimana kehidupan akan berjalan.

Kematian, perubahan keadaan, ujian ekonomi, penyakit, konflik, perubahan karakter, bahkan perpisahan merupakan bagian dari realitas kehidupan yang berada di luar kendali manusia.

Karena itu, kesadaran spiritual mengajarkan satu hal penting:

manusia boleh mencintai dengan segenap hati, tetapi tidak seharusnya memperlakukan manusia lain sebagai milik absolutnya.

Pasangan adalah teman perjalanan.

Ada hak yang harus dihormati.

Ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Ada batas yang harus dijaga.

Dan ada Tuhan yang pada akhirnya menjadi tempat manusia mempertanggungjawabkan seluruh amanah kehidupan.

MENIKAH BUKAN SEKADAR MENCARI BAHAGIA

Pernikahan tidak selalu menghadirkan hari-hari bahagia.

Ada hari ketika pasangan menjadi tempat pulang.

Ada hari ketika pasangan menjadi cermin kelemahan diri.

Ada hari ketika dua kepala berbeda pandangan.

Ada hari ketika kesabaran diuji.

Justru dalam situasi itulah kualitas sebuah relasi terlihat.

Bukan ketika semuanya mudah.

Melainkan ketika dua manusia berbeda memilih untuk tetap berkomunikasi, menghormati, memperbaiki diri dan menyelesaikan masalah tanpa saling menghancurkan.

Karena itu, menikah bukan sekadar mencari seseorang yang membuat hidup sempurna.

Pernikahan adalah proses dua manusia belajar menjadi lebih bertanggung jawab.

EPILOG

Pada akhirnya, pasangan bukan tujuan akhir kehidupan.

Ia adalah bagian dari perjalanan.

Seseorang yang mungkin hadir untuk menemani kita dalam waktu panjang, atau dalam batas waktu yang tidak pernah kita ketahui.

Maka jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk menguasai.

Jangan jadikan status perkawinan sebagai legitimasi untuk merendahkan.

Jangan jadikan kata “milikku” sebagai alasan menghilangkan kebebasan dan martabat manusia lain.

Menikah itu fana.

Bukan berarti cintanya tidak berarti.

Tetapi karena manusia dan kehidupan dunia sama-sama memiliki batas.

Yang perlu diluruhkan bukan cintanya.

Yang diluruhkan adalah egonya.

Sebab cinta yang matang tidak berkata:

“Kamu milikku.”

Melainkan:

“Aku akan menjaga amanah ini sebaik mungkin, selama Tuhan masih mengizinkan kita berjalan bersama.”


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar