Jurnalisme Bukan Lomba Cepat! Tanggung Jawab Tiap Kata Jadi Sorotan
Bali, Denpasar, 17 April 2026 – Arus informasi di era digital bergerak semakin cepat, namun tidak selalu diiringi dengan ketepatan. Di tengah maraknya berita real-time dan konten viral, masyarakat kini dihadapkan pada tantangan baru, yaitu membedakan mana informasi yang akurat dan mana yang berpotensi menyesatkan.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya tekanan pada media untuk menjadi yang pertama dalam menyampaikan berita. Kecepatan publikasi sering kali menjadi prioritas, namun di sisi lain berisiko mengurangi proses verifikasi yang seharusnya menjadi fondasi utama jurnalisme.
Dalam praktiknya, informasi yang tidak terverifikasi dapat berdampak luas bagi masyarakat mulai dari kesalahpahaman publik, kepanikan sosial, hingga pengambilan keputusan yang kurang tepat. Oleh karena itu, tidak hanya jurnalis, tetapi juga masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ekosistem informasi.
Seiring dengan perkembangan teknologi, penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga semakin banyak dimanfaatkan dalam produksi dan distribusi berita. Teknologi ini mampu mempercepat proses kerja, namun tetap memerlukan kontrol manusia untuk memastikan akurasi dan menghindari bias informasi.
I Made Maha Dwija Santya, S.E,M.M. selaku narasumber Journalism Short Courses LSPR Bali sesi 2 menekankan bahwa di tengah kecepatan informasi, tanggung jawab menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. “Jurnalisme bukan soal siapa yang paling cepat menekan tombol publish. Jurnalisme adalah soal siapa yang paling bertanggung jawab atas setiap kata yang ditayangkan, bahkan di era kecepatan sekalipun,” ujarnya.
Upaya peningkatan literasi media menjadi semakin penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu berperan aktif dalam menyaring dan menyebarkan informasi yang benar.
Sebagai bagian dari diskusi mengenai isu ini, kegiatan Journalism Short Courses yang diselenggarakan oleh LSPR Institute of Communication and Business Bali turut mengangkat tema “Speed vs Accuracy in Digital Journalism”, yang membahas bagaimana menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi dalam pemberitaan di era digital.
“Melalui pemahaman yang lebih baik tentang proses di balik produksi berita, diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih bijak dalam mengonsumsi informasi, serta turut menjaga kualitas ruang publik digital yang sehat, kredibel, dan bertanggung jawab,” ujar Ms Gesille Sedra Buot selaku Executive Director LSPR Bali. Istimewa
