Mar'ie Muhammad Tak Ingin Anak-anaknya Berkarier Sebagai Pegawai Negeri
0 menit baca
Jakarta, Cakrawala.id – Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) masih dianggap sebagai pilihan karier yang menjanjikan oleh banyak keluarga Indonesia karena menawarkan stabilitas pekerjaan dan jaminan masa depan. Namun pandangan tersebut ternyata tidak sejalan dengan prinsip yang pernah dipegang mantan Menteri Keuangan RI era Orde Baru, Mar'ie Muhammad.
Dalam sebuah kisah yang diceritakan keluarganya, Mar'ie justru berharap anak-anaknya tidak mengikuti jejaknya berkarier di lingkungan birokrasi pemerintahan. Pesan itu ia sampaikan setelah putra-putrinya menyelesaikan pendidikan.
Menurut sang istri, Etty Muhammad, Mar'ie pernah mengungkapkan harapannya agar tidak ada keturunannya yang menjadi pegawai negeri. Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung kepada anak-anaknya sebagai salah satu pesan penting setelah mereka lulus sekolah.
Keinginan itu sempat menimbulkan tanda tanya di kalangan keluarga. Anak-anaknya merasa heran karena ayah mereka sendiri menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya sebagai aparatur negara hingga dipercaya menjabat Menteri Keuangan.
Saat ditanya alasan di balik larangan tersebut, Mar'ie tidak memberikan penjelasan panjang. Ia hanya menyinggung besarnya godaan yang dihadapi seseorang ketika bekerja di lingkungan birokrasi.
Alih-alih menjadi pegawai negeri, Mar'ie mendorong anak-anaknya untuk mencari jalur karier lain, termasuk membangun usaha secara mandiri. Menurutnya, masih banyak pilihan profesi yang dapat memberikan masa depan yang baik tanpa harus masuk ke dalam sistem pemerintahan.
Pandangan tersebut diduga lahir dari pengalaman panjangnya selama bertugas di sektor publik. Pada masa itu, praktik korupsi dan pungutan liar masih menjadi tantangan besar dalam berbagai lembaga pemerintahan. Kondisi tersebut membuat Mar'ie memahami berbagai risiko moral yang dapat dihadapi oleh para aparatur negara.
Gambaran serupa juga pernah disampaikan oleh mantan Menteri Keuangan lainnya, J.B. Sumarlin. Dalam catatan autobiografinya, Sumarlin mengungkap bahwa praktik pungutan liar sempat mengakar dalam pelayanan publik sehingga masyarakat sering kali harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengurus berbagai keperluan administrasi.
Untuk menekan praktik tersebut, Sumarlin dikenal aktif melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah instansi pemerintah. Bahkan, ia beberapa kali turun langsung dengan menyamar guna melihat kondisi pelayanan secara nyata. Pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran tidak segan-segan diberikan sanksi.
Langkah tegas itu membuat Sumarlin dikenal sebagai salah satu tokoh yang konsisten mendorong reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi. Berbagai upaya yang dilakukannya dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan turut mengantarkannya memperoleh pengakuan internasional sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia pada tahun 1989.
Berangkat dari realitas birokrasi yang penuh tantangan tersebut, Mar'ie Muhammad memilih memberikan arahan berbeda kepada keluarganya. Meskipun berhasil mencapai posisi tertinggi dalam karier pemerintahan, ia berharap anak-anaknya dapat membangun masa depan melalui jalur profesi di luar lingkungan birokrasi negara.
(Tim/Redaksi)