Perry Warjiyo Mundur dari Bank Indonesia: Di Balik Warisan QRIS, Badai Pandemi, dan Rupiah yang Tertekan
Poto Istimewa : afkan
Jakarta – Cakrawala Asia.Id
Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu peristiwa paling mengejutkan dalam sejarah kebijakan moneter Indonesia. Pemerintah telah mengonfirmasi bahwa Presiden menerima pengunduran diri tersebut dan akan memproses pemberhentian secara hormat sesuai Undang-Undang Bank Indonesia. Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga gubernur definitif ditetapkan.
Selama hampir delapan tahun memimpin bank sentral, Perry Warjiyo meninggalkan jejak yang tidak sederhana. Ia dipuji karena mempercepat digitalisasi sistem pembayaran nasional melalui implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini menjadi tulang punggung transaksi digital jutaan pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga sektor ritel modern.
Namun, kepemimpinannya juga diwarnai ujian berat. Saat pandemi Covid-19 melumpuhkan ekonomi dunia, Bank Indonesia berada di garis depan menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan pelonggaran moneter, pembelian surat berharga negara, hingga koordinasi erat dengan pemerintah menjadi langkah luar biasa yang berhasil mencegah krisis ekonomi yang lebih dalam.
Meski demikian, babak akhir kepemimpinannya justru dibayangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sepanjang 2026, rupiah mengalami pelemahan tajam sehingga memicu kritik dari berbagai kalangan. Bank Indonesia merespons melalui intervensi di pasar valuta asing serta penyesuaian suku bunga, namun tekanan global dan derasnya arus modal keluar membuat rupiah tetap berada dalam posisi sulit.
Di tengah kondisi tersebut, desakan agar Perry Warjiyo mundur sempat muncul dari sejumlah pihak, termasuk dalam rapat kerja bersama DPR. Saat itu, Perry tetap menyatakan keyakinannya bahwa stabilitas ekonomi dan nilai tukar akan kembali terjaga.
Kini, pengunduran dirinya menutup satu bab penting dalam sejarah Bank Indonesia. Warisan digitalisasi pembayaran melalui QRIS kemungkinan akan dikenang sebagai salah satu transformasi terbesar di sektor keuangan nasional. Di sisi lain, pelemahan rupiah pada akhir masa jabatannya akan tetap menjadi bagian dari evaluasi publik terhadap efektivitas kebijakan moneter di tengah gejolak ekonomi global.
Pengunduran diri Perry Warjiyo sekaligus membuka babak baru bagi Bank Indonesia. Tantangan yang menanti pengganti Perry tidak ringan: menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, memulihkan kepercayaan pasar, sekaligus melanjutkan transformasi sistem keuangan digital di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Afkan.
