Dari Pulau Terluar ke Meja Makan: Desa Umiyal Buktikan Garam Lokal Mampu Bangkitkan Ekonomi Pesisir
0 menit baca

Poto Istimewa : Afkan
Halmahera Tengah – Cakrawala Asia.id tengah besarnya ketergantungan Indonesia terhadap garam dari luar daerah bahkan impor untuk sejumlah kebutuhan, secercah harapan justru muncul dari sebuah desa kecil di Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Desa Umiyal kini mencatat sejarah sebagai sentra produksi garam pertama di Maluku Utara. Hamparan air laut yang selama ini hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir, kini berhasil diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi melalui teknologi tambak garam modern.
Keberhasilan tersebut bukan sekadar simbol pembangunan desa, tetapi menjadi bukti bahwa potensi lokal mampu menjadi sumber kesejahteraan apabila didukung kebijakan yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan.
Kelompok Tambak Garam Desa Umiyal, dengan pendampingan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), telah berhasil melaksanakan empat kali panen sejak program dimulai pada 2025.
Panen keempat berlangsung pada Selasa (4/8/2026) dan dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kabid Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas PMD Halmahera Tengah Amir Hasim, Askab TEKAD Halmahera Tengah Adam Basrus, TPP BUMDes Halmahera Tengah Ongen Alfaruk, serta Kepala Desa Umiyal Buhari Gasim.
Menurut Kepala Desa Umiyal Buhari Gasim, pembangunan tambak garam didukung bantuan Kemendes PDTT sebesar Rp100 juta yang digunakan membangun dua petak tambak dengan teknologi atap kertas UV dan media terpal HDPE. Teknologi tersebut memungkinkan proses kristalisasi garam berlangsung lebih cepat, bersih, dan menghasilkan kualitas yang lebih baik dibanding metode tradisional.
Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa wilayah kepulauan seperti Pulau Gebe memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri garam lokal. Selain membuka lapangan pekerjaan baru, program tersebut juga berpeluang meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan garam dari luar daerah.
Namun demikian, keberhasilan awal ini menjadi tantangan baru bagi pemerintah daerah. Produksi yang meningkat harus diikuti dengan strategi pemasaran, peningkatan kapasitas produksi, penguatan kelembagaan kelompok usaha, serta kepastian akses pasar agar usaha tambak garam tidak berhenti hanya sebagai proyek percontohan.
Di sisi lain, diperlukan dukungan lanjutan berupa pelatihan, sertifikasi mutu, hingga pengembangan industri pengolahan garam agar nilai tambah tetap dinikmati masyarakat desa.
Jika dikelola secara konsisten, Desa Umiyal berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis sumber daya pesisir di kawasan timur Indonesia. Garam yang lahir dari Pulau Gebe bukan hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga simbol kemandirian desa dan bukti bahwa pembangunan dari pinggiran dapat menghasilkan perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Apabila tersedia data produksi, jumlah tonase, harga jual, jumlah anggota kelompok, dan omzet hasil panen, berita ini dapat diperdalam menjadi laporan investigatif berbasis data dengan analisis dampak ekonomi yang lebih kuat.
Afkan.