BREAK NEWS

Masa Tua Tak Harus Menjadi Beban: Riset Universitas Warmadewa–BKKBN Bali Siapkan Formula Ilmiah Agar Lansia Tetap Sehat, Bahagia, dan Produktif



Poto Istimewa : Afkan 
Denpasar – Cakrawala Asia.Id. Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dinamika kependudukan. Setelah menikmati bonus demografi selama bertahun-tahun, bangsa ini kini menghadapi tantangan yang tak kalah besar: meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (aging population).
  
 Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memperpanjang usia harapan hidup, tetapi bagaimana memastikan setiap warga dapat menikmati masa tua yang sehat, mandiri, produktif, dan tetap bermartabat.

   Menjawab tantangan tersebut, Universitas Warmadewa bersama Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi Bali mengembangkan Model Prediktor Partisipasi dan Kualitas Hidup Lansia, sebuah riset ilmiah yang diarahkan menjadi landasan penyusunan kebijakan publik berbasis data.

   Pembahasan model tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan akademisi, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan guna mengidentifikasi faktor-faktor utama yang menentukan kualitas hidup lansia di Indonesia.

   Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur hanya dari panjangnya usia masyarakat, tetapi juga dari kualitas kehidupan yang dijalani pada masa lanjut usia.

   "Sekolah Lansia bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang agar lansia tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dihargai, dan menjalani masa tua dengan bahagia serta bermakna," ujarnya.

   Pernyataan tersebut menegaskan bahwa lansia bukan kelompok yang harus dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan aset sosial yang masih memiliki potensi besar untuk terus berkontribusi apabila memperoleh dukungan yang tepat.

   Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah Sekolah Lansia, yang mengembangkan konsep Tujuh Dimensi Lansia Tangguh, meliputi aspek spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan.

   Pendekatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan lansia dalam menghadapi perubahan kehidupan sekaligus mempertahankan kualitas hidup mereka.
Implementasi program di Ubud yang telah melibatkan 87 peserta menunjukkan tingginya antusiasme para lansia untuk terus belajar, bersosialisasi, dan mengembangkan diri.

   Temuan ini memperlihatkan bahwa semangat untuk tetap aktif tidak pernah hilang selama tersedia ruang yang mendukung. Ketua Tim Peneliti, Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, S.IP., M.AP., menegaskan bahwa penelitian ini tidak boleh berhenti sebagai karya ilmiah yang tersimpan di perpustakaan.

   "Hilirisasi riset harus menghasilkan model yang dapat dipakai pemerintah dan masyarakat. Kami ingin penelitian ini menjadi dasar kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas hidup lansia secara nyata."

   Model yang sedang dikembangkan memetakan berbagai indikator penting, mulai dari kesehatan fisik dan mental, dukungan keluarga, partisipasi sosial, lingkungan ramah lansia, spiritualitas, tingkat kemandirian, hingga keberlanjutan kelembagaan di tingkat desa.

   Keunikan penelitian ini juga terlihat dari keterlibatan mahasiswa melalui program Mahasiswa Berdampak. Mereka turun langsung ke masyarakat memberikan edukasi kesehatan, pendampingan psikososial, literasi digital, hingga berbagai aktivitas sosial yang memperkuat interaksi dan kesejahteraan lansia.

   Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat tersebut diharapkan menghasilkan model pembangunan lansia yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

   Di tengah perubahan struktur demografi nasional, penelitian Universitas Warmadewa dan BKKBN Bali menjadi pesan penting bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang generasi muda dan pertumbuhan ekonomi. 

   Keberhasilan sebuah bangsa juga tercermin dari kemampuannya menghadirkan masa tua yang sehat, aktif, produktif, dan bermartabat bagi seluruh warganya.

   Jika model ilmiah ini berhasil diimplementasikan secara luas, Indonesia tidak hanya siap menghadapi era masyarakat menua, tetapi juga mampu mengubah usia senja menjadi fase kehidupan yang tetap penuh makna, harapan, dan kontribusi bagi pembangunan bangsa.

   
Afkan.
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar